“Doakan Saya ya…”, begitulah permohonan orang kepada teman atau
saudaranya yang terkadang bahkan lebih sering hanya bernilai basa-basi.
”Doa Saya selalu menyertai …" atau " Iya deh
didoain....." itulah kemudian jawaban basa-basi kita pula.
Pernahkah kita benar-benar mendoakan saudara atau teman kita?
Padahal doa yang diijabah adalah sebaik-baik hadiah
mari kita tafakuri pula untaian doa kita selepas sholat.
tentang apa kita berdoa? aku, aku, aku, keluargaku, hartaku,
pekerjaanku, -ku, -ku
untuk siapa kita berdoa? agar aku, untuk aku ,supaya aku, -ku, -ku
apakah kita berdoa layaknya seseorang setor muka atau benar-benar
meminta?
apakah kita telah berdoa sebagai HAMBA, atau sekedar lapor tentang
aneka kebutuhan kita?
apakah kita faham tentang isi doa kita dan sungguh-sungguh
mengharapkannya,
atau untaian doa kita hanya file MP3 yang diputar berulang kali dari
mulut kita tanpa hati kita merasakannya?
Pernahkah kita benar-benar berdoa sebagai seorang Hamba yang menginginkan
ridho dan rahmat dari Allah ?
Atau kemudian kita berpaling saat doa kita tak kunjung terkabul.