Saudaraku, mana hadiah untukku?


Saudaraku, jika engkau mengutus seseorang kepadaku untuk suatu urusan, maka janganlah engkau lupa untuk mengirimkan hadiah untukku darimu. Aku tidak akan merendahkan hadiah itu. Hadiah itu adalah hadiah terbesar bagiku dari semua yang aku miliki.
Janganlah engkau mencari hadiah yang mahal untukku. Aku tidak akan membebanimu dengan sesuatu yang engkau tidak mampu. Aku hanya menginginkan hadiah seperti hadiah yang diberikan oleh Abu Darda’ kepada saudaranya seiman, Salman al Farisi. Maukah engkau mengetahui hadiah apakah itu?
Al Asy’ats bin Qais dan Jabir bin ‘Abdullah al Bajli datang menemui Salman al Farisi. Keduanya lalu masuk ke tempat Salman dalam sebuah benteng yang berada di ujung Madain.
Keduanya menghampiri Salman dan mengucapkan salam, lalu memberikan isyarat penghormatan kepadanya, kemudian berkata : “apakah engkau Salman al Farisi?”
Salman menjawab : “ya!”
Keduanya bertanya : “apakah engkau sahabat Rasulullah?”
Salman menjawab : “aku tidak tahu”
Keduanya menjadi ragu mendengar jawaban Salman tersebut, lalu mereka berkata : “mungkin bukan orang ini yang kita maksud”
Salman lantas berkata kepada keduanya : “aku adalah sahabat kalian yang kalian maksud”
Keduanya berkata : “kami mendatangimu sebagai utusan dari seorang saudara kami di negeri Syam”
Salman bertanya : “siapakah orang itu?”
Keduanya menjawab : “Abu Darda’”
Salman bertanya : “mana hadiah yang dia kirimkan melalui kalian untukku?”
Keduanya menjawab : “dia tidak mengirimkan hadiah apapun melalui kami”
Salman berkata : “bertaqwalah kalian berdua kepada Allah dan tunaikanlah amanah. Tidak ada seorang pun yang datang kepadaku yang diutus olehnya (Abu Darda’), melainkan dia datang dengan membawa hadiah”
Keduanya berkata : “kami tidak mengetahui apa-apa tentang hal ini. Namun kami memiliki harta; silahkan engkau ambil”
Salman berkata : “aku tidak menginginkan harta kalian, tetapi aku menginginkan hadiah yang diberikan melalui kalian berdua”
Keduanya berkata : “demi Allah,

Apakah lampuku dapat menerangi hatimu?


Abu Jandul adalah seorang penduduk desa yang baik dan terkenal. Dia memiliki secarik kertas yang di dalamnya tertulis daftar tiga ratus orang nama sahabat-sahabatnya yang selalu dia doakan setiap malam. Pada suatu malam dia tertidur dan tidak mendoakan mereka. Lalu, di dalam mimpinya ada salah seorang sahabatnya yang bertanya : “wahai Abu Jandul, mengapa engkau tidak menyalakan lampu-lampumu malam ini?.” Abu Jandul pun bangun dari tidurnya. Dia langsung meraih kertas itu dan mendoakan satu per satu dari sahabat-sahabatnya hingga selesai.
Siapa di antara kita yang dapat melakukan seperti yang dilakukan oleh Abu Jandul? Sungguh kita sangat membutuhkan lampu-lampu penerang yang dapat menerangi hati kita semua sebelum hati itu dilatih (dididik). Do’a adalah sarana yang paling cepat untuk menyampaikan rasa cinta. Aku tidak pernah melupakan saudaraku yang selalu mengatakan : “aku sampaikan salamku untukmu kepada Allah.”
Watak materialistis yang telah menguasai dunia ini harus dihapuskan dengan lampu-lampu penerang dan dengan pandangan kasih sayang. Rasulullah bersabda : “siapa saja yang memandang saudanya dengan pandangan kasih sayang, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya” (HR Hakim dan Tirmidzi dalam kitab Nawaadirul Ushul).
Mengapa sahabat tidak menuliskan nama saudara-saudara sahabat dalam sebuah kertas, kemudian

Khulafaur Rasyidin: Ali bin Abi Thalib (656-661 M) Dicintai Orang Beriman (2-habis)


Beberapa sahabat seperti Ahnaf bin Qais At-Tamimi memahami kebijakan Ali bin Abi Thalib. Menurutnya, pembunuhan terhadap Utsman jelas perbuatan jahat yang harus ditindak. Tetapi, suasana eksplosif saat itu sangat tidak memungkinkan bagi Khalifah Ali untuk mengambil tindakan tegas. Pada saat yang sama, Ahnaf mencium adanya gelagat orang ketiga yang menghendaki terjadinya pertikaian.

Atas dasar itu, ia berusaha mencegah agar tidak terjadi pertempuran. Namun usahanya gagal. Di akhir negosiasinya dengan Ali bin Abi Thalib ia sempat memberikan pilihan. “Aku berperang di pihakmu atau aku mencegah 10.000 pedang tertuju padamu?” tanya Ahnaf.

Menghadapi tawaran itu, dengan bijak Khalifah Ali menjawab, “Cegahlah 10.000 pedang terhadapku.”

Dengan jawaban itu, Ahnaf memutuskan untuk menjauhkan diri bersama 10.000 pasukannya. Ia tidak sampai hati menghadapkan senjata terhadap Ummul Mukminin, Aisyah. Sebaliknya, Aisyah juga tidak mungkin mengangkat senjata untuk memerangi sepupu Rasulullah Saw, Ali bin Abi Thalib.

Namun sejarah harus mencatat, puncak kemelut itu harus melahirkan tragedi kelam, Perang Jamal (Perang Onta). Dinamakan demikian karena Aisyah mengendarai onta. Peperangan berakhir dengan kemenangan di pihak Ali. Thalhah bin Ubaidillah yang berada di pihak Aisyah berhasil meloloskan diri ke Basrah, tetapi akibat luka parah yang dideritanya, ia pun wafat. Zubair bin Awwam yang juga berada di pihak Aisyah gugur. Sedangkan Aisyah tertawan, dan hanya satu hari kemudian ia dibebaskan dan dikembalikan ke Makkah dengan diantar langsung oleh saudaranya, Muhammad bin Abu Bakar.

Sementara itu,

Khulafaur Rasyidin: Ali bin Abi Thalib (656-661 M) Dicintai Orang Beriman (1)




Dia adalah khalifah keempat dari Khulafaur Rasyidin. Ayahnya Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdi Manaf. Ibunya Fathimah binti Asad binti Hasyim bin Abdi Manaf. Jadi, baik dari pihak ayah maupun ibunya, Ali adalah keturunan Bani Hasyim.

Untuk meringankan beban Abu Thalib yang kala itu mempunyai anak yang lumayan banyak, Rasulullah Saw mengasuh Ali. Selanjutnya, Ali tinggal bersama di rumah Nabi dan mendapatkan pengajaran langsung dari beliau.

Ali dilahirkan dalam Ka’bah, 23 tahun sebelum Hijrah, dan mempunyai nama kecil Haidarah. Ia baru menginjak usia sepuluh tahun ketika Rasulullah menerima wahyu yang pertama. Sejak kecil Ali telah menunjukkan pemikirannya yang kritis dan brilian.

Kesederhanaan, kerendah-hatian, ketenangan dan kecerdasan dari kehidupan Ali yang bersumber dari Al-Qur’an dan wawasan yang luas, membuatnya menempati posisi istimewa di antara para sahabat Rasulullah Saw lainnya. Kedekatan Ali dengan keluarga Rasulullah semakin erat ketika ia menikah dengan putri bungsu beliau, Fathimah.

Ketika Rasulullah Saw masih hidup, Ali bin Abi Thalib telah memberikan ‘saham’ terbesar demi tersebarnya Islam. Di antara sumbangan terbesar itu adalah kesediaannya menggantikan Rasulullah Saw tidur di kamarnya untuk mengelabui para pengepung yang ingin membunuh Rasulullah. Dengan resiko apapun, termasuk kemungkinan dibunuh, Ali bersedia menanggung akibatnya. Dengan cara itu, Rasulullah dan Abu Bakar aman bersembunyi di Gua Tsur selama beberapa hari, dan selanjutnya meneruskan hijrah ke Madinah.

Itu bukan satu-satunya bukti keberanian Ali. Ketika Perang Badar akan meletus,

Khulafaur Rasyidin: Utsman bin Affan (644-656 M) Pemilik Dua Cahaya (2-habis)


Kedermawanan Utsman nampak dalam kehidupannya sehari-hari. Ketika bencana kekeringan melanda Madinah, kaum Muslimin terpaksa menggunakan sumur Rum sebagai sumber air satu-satunya. Sayangnya, sumur tersebut milik Yusuf, seorang Yahudi tua yang serakah. Untuk mengambil air sumur itu, kaum Muslimin harus membayar mahal dengan harga yang ditetapkan si Yahudi.

Melihat keadaan penduduk Madinah, Utsman segera menemui Yusuf, si pemilik sumur. “Wahai Yusuf, maukah engkau menjual sumur Rum ini kepadaku?” tawar Utsman.

Yahudi tua yang sedang ‘mabuk duit’ itu segera menyambut permintaan Utsman. Dalam benaknya ia berpikir, Utsman adalah orang kaya. Ia pasti mau membeli sumurnya berapa pun harga yang ia minta. Namun di sisi lain ia juga tidak mau kehilangan mata pencahariannya begitu saja. “Aku bersedia menjual sumur ini. Berapa engkau sanggup membayarnya?”

“Sepuluh ribu dirham,” jawab Utsman.

Si Yahudi tua tersenyum sinis. “Sumur ini hanya akan kujual separuhnya. Kalau bersedia, sekarang juga kau bayar 12 ribu dirham, dan sumur kita bagi dua. Sehari untukmu dan sehari untukku, bagaimana?”

Setelah berpikir sejenak, Utsman menjawab, “Baiklah, aku terima tawaranmu.” Setelah membayar seharga yang diinginkan, Utsman menyuruh pelayannya untuk mengumumkan kepada para penduduk, bahwa mereka bebas mengambil air sumur Rum secara gratis.

Sejak itu, penduduk Madinah bebas mengambil air sebanyak mungkin  untuk keperluan mereka. Lain halnya dengan si Yahudi tua. Ia kebingungan lantaran

Khulafaur Rasyidin: Utsman bin Affan (644-656 M) Pemilik Dua Cahaya (1)


Dikisahkan Al-Manawi dalam kitab Ad-Durr Al-Mandhud, suatu ketika pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, kaum Muslimin dilanda kekeringan. Ketika kesulitan semakin berat, mereka mendatangi Abu Bakar dan berkata, “Wahai pengganti Rasulullah Saw, sesungguhnya langit tak lagi menurunkan hujan, bumi tak menumbuhkan tanaman, orang-orang sudah memperkirakan datangnya kebinasaan. Lalu apa yang akan engkau perbuat?”

Abu Bakar menjawab, “Pulanglah kalian dan bersabarlah. Aku berharap kalian tidak sampai sore sehingga Allah memberikan jalan keluar untuk kalian.”

Di pagi hari mereka menanti-nantikannya. Ternyata ada seribu onta terikat dengan muatan di atasnya berisi gandum, minyak dan tepung. Rombongan itu berhenti di pintu rumah Utsman bin dan dibongkar di rumahnya. Para saudagar berdatangan, Utsman keluar dan bertanya, “Apa yang kalian inginkan?”

Mereka menjawab, “Engkau mengetahui apa sebenarnya yang kami inginkan.” Orang-orang itu adalah para saudagar yang ingin membeli harta Utsman.

“Berapa kalian memberikan laba kepadaku?”

Mereka menjawab, “Dua dirham?”

Utsman menjawab, “Aku telah diberi lebih dari itu.”

Mereka menaikkan tawaran dengan berkata,

Khulafaur Rasyidin: Umar bin Khathab (634-644 M) Pemimpin yang Adil (4-habis)


Sebagai seorang khalifah, hidup sahabat Nabi yang dikenal juga dengan Abu Hafsh ini, benar-benar diabdikan untuk mencapai ridha Ilahi. Ia berjuang demi kepentingan rakyat, benar-benar memerhatikan kesejahteraan mereka. Di malam hari, ia sering melakukan investigasi untuk mengetahui keadaan rakyat jelata yang sebenarnya.

Suatu malam, ia menemukan sebuah gubuk kecil. Dari dalam samar-samar terdengar suara tangis anak-anak. Umar mendekat dan memerhatikan dengan seksama keadaan gubuk itu. Ia dapat meliht seorang ibu yang dikelilingi anak-anaknya. Ibu itu kelihatan sedang memasak sesuatu. Tiap kali anak-anaknya menangis, sang ibu berkata, “Tunggulah, sebentar lagi makanannya akan matang!”

Selagi Umar memerhatikan dari luar, sang ibu terus menenangkan anak-anaknya dan mengulangi perkataannya bahwa makanan tak lama lagi akan matang. Umar penasaran. Setelah memberi salam dan meminta izin, ia msauk dan bertanya, “Mengapa anak-anak Ibu tak berhenti menangis?”

“Mereka kelaparan!” jawab sang ibu.

“Mengapa Ibu tak berikan makanan yang sedang Ibu masak sedari tadi?”

“Tak ada makanan. Periuk yang sedari tadi saya masak hanya berisi batu untuk mendiamkan anak-anak. Biarlah mereka berpikir bahwa periuk itu berisi makanan. Mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur.”

“Apakah Ibu sering berbuat begini?” tanya Umar ingin tahu.

“Ya. Saya tidak memiliki keluarga dan suami tempat saya bergantung. Saya sebatangkara,” jawab si ibu dengan nada datar, berusaha menyembunyikan kepedihan hidupnya.

“Mengapa Ibu tidak meminta pertolongan kepada khalifah?” Mungkin ia